Destinasi Indonesia Nusa Tenggara Timur

Berpetualang Menuju Wae Rebo, Desa di Atas Awan

Pinterest LinkedIn Tumblr

Nusa Tenggara Timur kini menjadi primadona bagi para pelancong dari dalam mau pun luar negeri. Kepulauan ini memiliki beragam destinasi wisata yang wajib untuk dijelajahi, seperti Pulau Komodo, Danau Kelimutu, Gunung Mutis, Labuan Bajo, dan masih banyak lagi. Nah, untuk kamu yang ingin merasakan pengalaman bermalam di desa adat di NTT, kamu harus mencoba pergi ke Wae Rebo!

Wae Rebo yang berada di barat daya Kota Ruteng merupakan desa terpencil yang berada di Kabupaten Manggarai. Desa ini disebut-sebut sebagai desa di atas awan, karena terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju ke sana, kita bisa melakukan perjalanan darat dari Labuan Bajo.

Berangkat dari Labuan Bajo

Rute perjalanan yang di tempuh adalah Labuan Bajo, Ruteng, Desa Dintor, Desa Kombo, dan Wae Rebo. Dari Labuan Bajo, tersedia berbagai pilihan moda transportasi. Ada bus antar kota dengan tarif Rp 30.000 hingga Rp 60.000, ada juga mobil travel dengan tarif Rp 50.000, dan sewa sepeda motor dengan tarif Rp 75.000/hari. Waktu tempuh dari Labuan Bajo hingga Ruteng memakan waktu selama 7 hingga 8 jam. Maka dari itu, lebih baik pergi pada pagi hari.

Selama perjalanan menuju Ruteng, kamu akan disuguhi pemandangan yang begitu memesona. Hamparan savana yang luas akan memanjakan matamu. Setelah memasuki Ruteng, kamu akan menuju sebuah desa kecil bernama Dintor. Pemandangan pesawahannya pun tak kalah indah.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Labuan Bajo, kamu perlu beristirahat terlebih dahulu untuk melanjutkan perjalanan pendakian menuju Wae Rebo. Di Dintor, banyak warga yang menyewakan tempat tinggal yang bisa dipakai untuk bermalam. Pastikan istirahatmu di Dintor optimal ya!

Hari berikutnya, persiapkanlah diri untuk melakukan tracking dari Desa Kombo. Untuk menuju desa tersebut, memakan waktu sekitar 10 menit. Dari desa itulah kita akan memulai pendakian menuju Wae Rebo. Selama pendakian, pemandangan hutan dan pegunungan akan terus menemani. Sungai-sungai jernih dan beberapa air terjunnya dapat dijadikan tempat terbaik untuk beristirahat selama pendakian.

Baca juga artikel terkait Traveling ke Negeri di Atas Awan yang Bebas Macet

Durasi pendakian menuju Wae Rebo dapat memakan waktu selama 3 hingga 4 jam. Di check point terakhir yang berupa rumah kayu, kamu sudah bisa melihat pemandangan Desa Wae Rebo dari kejauhan. Tampak rumah-rumah adat yang berbentuk kerucut berlapis ijuk bernama Mbaru Niang, berlatarkan pegunungan hijau dan kabut-kabut, sangat mengobati rasa lelah selama pendakian.

Wae Rebo
Image credit: Hervé Djoho (flickr.com)

Sampai di Wae Rebo

Berjalan menuju Desa Wae Rebo, kita perlu mengikuti sebuah proses upacara adat. Upacara tersebut merupakan prosesi penerimaan tamu yang menjadi simbol penerimaan keluarga baru bagi masyarakat desa ini. Kita pun akan bertemu dengan pelancong lain yang hadir ketika sampai di desa ini.

Total Mbaru Niang, rumah adat tradisional di Wae Rebo, berjumlah 7 buah. Setiap rumahnya dapat dihuni hingga 30 orang. Semua orang beristirahat di sini bersama-sama dan juga melalukan kegiatan domestik seperti memasak atau menenun kain. Tidak ada kamar mandi di dalam rumah ini, maka kita harus berjalan menuju mata air jika ingin mandi.

Wae Rebo
Image credit: Ignasi Rodriguez (flickr.com)

Di sekitar desa ini pun terdapat perkebunan dengan berbagai macam tanaman. Salah satu yang paling populer adalah kopi. Kopi-kopi di sini semuanya diproses secara tradisional, mulai dari menanam, memanen, menjemur, memasak, hingga menyeduhnya. Para tamu pun dapat menikmati kopi khas Wae Rebo sambil merasakan pengalaman hidup bersama masyarakat desa di atas awan ini.

Kopi Wae Rebo
Image credit: Hervé Djoho (flickr.com)
Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.