Asal-usul

Cikal Bakal Hari Jadi Surabaya Tanggal 31 Mei

Pinterest LinkedIn Tumblr

Tidak sepeti tahun-tahun sebelumnya, hari jadi Surabaya ke-727 tahun ini berlangsung tanpa selebrasi besar. Wali Kota Tri Rismaharini pun merayakan hari ini dengan sederhana. Hal ini tentu dilakukan demi mengurangi penyebaran wabah virus corona (COVID-19).

Kita mengenai Surabaya sebagai Kota Pahwalan. Kota ini menyimpan banyak sejarah dari masa lampau. Tanggal 1 April biasanya dirayakan sebagai hari jadi Surabaya. Tetapi sejak awal tahun 1970-an, dikoreksi menjadi tanggal 31 Mei.

Kemenangan Majapahit Atas Pasukan Mongol

Hari jadi surabaya
Image credit: Museum Nasional

Pergantian tanggal hari jadi Surabaya ini didasari atas peristiwa 31 Mei 1293. Pada tanggal tersebut, pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya menang atas serangan pasukan Mongol.

Peristiwa 31 Mei 1293 tersebut terjadi di kawasan yang saat ini menjadi Kota Surabaya. Beberapa sumber menyatakan bahwa pertempuran ini diibaratkan sebagai “Sura” yang berarti ikan hiu/berani, dengan “Baya” yang berarti buaya/bahaya.

Pasukan Mongol yang datang melalui jalur laut, digambarkan sebagan “Sura”, seperti ikan hiu yang berani. Sedangkan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya diibaratkan dengan “Baya”, buaya juga berani menghadapi ancaman.

Pertempuran ini dimenangkan oleh Raden Wijaya melalui tipu daya yang dilakukan terhadap pasukan Mongol. 

Tidak Ada Prasasti yang Menyebutkan Mongol dalam Peristiwa Ini

Meski kisah itu kini dikenal dan menjadi alasan cikal bakal hari jadi Surabaya, tetapi belum ada temuan prasasti yang menyebutkan kedatangan bangsa Mongol ke Tanah Jawa. Dilansir dari Historia, ada dua prasasti yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya. Di antaranya adalah Prasasti Kudadu yang berangka tahun 1294 dan Prasasti Sukamrta yang berangka tahun 1296.

Prasasti Kudadu sendiri berisi penetapan Desa Kudadu sebagai daerah perdikan bagi pejabat setempat. Hal ini merupakan balas jasa yang dilakukan oleh Raden Wijaya bagi pejabat desa.

Sedangkan Prasasti Sukamrta berisi penetapan Sukamrta sebagai daerah otonom. Dalam prasasti ini disebutkan mengenai kepergian Raden Wijaya ke Madura dengan menyebrangi lautan.

Dalam prasasti-prasasti tersebut tidak disebutkan adanya kedatangan pasukan Mongol. Hanya Jayakatwang yang disebutkan sebagai musuh besar Raden Wijaya. Jayakatwang, dalam berbagai sumber, sering digambarkan sebagai penghianat Raja Kertanagara.

Baca juga Asal Usul Nama Jalan Malioboro Yogyakarta

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.