Asal-usul Seni dan Budaya

French New Wave: Pionir Gaya Film Masa Kini Sejak Abad ke 20

Pinterest LinkedIn Tumblr

Prancis, negara yang menjadi salah satu kiblat seni dunia pun tidak lepas dengan dunia layar lebar. Perhelatan layar lebar pada era 60an didominasi dengan gaya unik sutradara visioner. Diantaranya Alfred Hitchcock, Orson Welles, Roberto Rosellini, dan masih banyak lagi. Bisa dibilang di abad ke 20, perkembangan layar lebar dunia memiliki cerita yang lurus, logis, serta sinematografi yang amat rapi dan tidak asal-asalan. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi para jurnalis film Cahiers du Cinema di penghujung tahun 50an. Dimana era French New Wave menggebrak ranah film dunia.

Sektor satu ini dapat membangkitkan kembali Prancis diawali dari pasca Perang Dunia II (PDII). Prancis sedang ‘diambang kematian’, baik segi politik dan ekonomi. Demi terjaganya stabilitas negara, warganya pun senantiasa menjaga tradisi lama, dilembagakan, dan dipromosikan. Mengutip Cinemapoetica, saat itu media L’Express mengungkapkan jika masyarakatnya bosan dengan apa yang dipromosikan. Karena bagi pemerintah, masyarakat Prancis begitu mencintai warisan budaya lampau. Maka, hasil survey L’Express mendorong adanya perubahan besar dari segi kultural. Wajar jika French New Wave ini menjadi bentuk dari perubahan besar bagi industri di Prancis, khususnya film.

Pasca PDII pun membuat industri film tidak maju, terlebih karena adanya budaya senioritas membuat anak muda prancis harus merangkak dulu dari bawah untuk membuat film. Dengan adanya sekelompok anak muda Cahiers dalam industri film, gebrakan baru industri film Prancis dapat merubah cara pandang yang ‘kolot’ pada saat itu. Siapa sangka, yang awalnya berlatar belakang sebagai jurnalis film bahkan sering mengritisi film.

Jurnalis Film yang Melanglangbuana Menjadi Pionir Gaya Film Masa Kini

Salah satu adegan di film Breathless (1960) (reellifeinsider.weebly.com)

Francois Truffaut, Claude Chabrol, Jean-Luc Godard, Eric Rohmer dan Jacques Rivette. Mereka adalah nama-nama dari adanya era French New Wave di tahun 60an. Nama-nama tersebut pun adalah sekelompok anak muda yang aktif menulis di cahiers. Sekaligus anak muda yang tidak memeroleh pendidikan formal di industri film.

Mereka adalah jurnalis yang memiliki satu visi mengenai film. Yakni posisi sutradara dan produksi memiliki posisi sejajar layaknya sastrawan dan penulis. Sehingga, beberapa sutradara jagoan para cahiers pun disebut sebagai auteur atau author. Diantaranya para auteur yang dielu-elukan adalah Alfred Hitchcock, Howard Hawks, dan Jean Renoir. Karena konsistensi para auteur terus dijaga, dengan gaya visual dan tema yang seragam. Sehingga karya original para sineas tersebut tak lekang oleh zaman.

Truffaut, Chabrol, Godard, Rohmer dan Rivette mampu membuat gaya baru nan segar di industri film Prancis bahkan dunia. Berawal dari serangan besar Godard kepada 21 sutradara, beliau mengatakan “Pergerakan kamera kalian jelek karena subyek kameramu buruk. Pemainmu buruk karena dialogmu murahan. Singkatnya, kalian tidak tahu cara membuat sinema, karena kalian tidak tahu lagi apa itu sinema.”. Kemudian kelompok revolusioner pun bergerak membuat film yang sesuai dengan idealisnya masing-masing.

Mungkin bagi pecinta film, seharusnya tidak asing dengan film karya Jean-Luc Godard. Pada tahun 1959, para pionir ini pun memulai perjalanan era French New Wave dengan menelurkan karya-karya berikut:  Paris nous appartient (Paris Belongs to Us) karya Rivette; A Bout de souffle (Breathless) karya Godard; Les Cousins karya Chabrol, yang merupakan feature film keduanya; dan Les Quatre cent coups (The 400 Blows) karya Truffaut. Tak tanggung-tanggung Les Quatre cent coups pun memenangkan Penghargaan Sutradara Terbaik di Festival Film Cannes.

Formula Film Era French New Wave

Salah satu adegan di film The 400 Blows (1959) (reellifeinsider.weebly.com)

Formula yang diterapkan para pionir ini pun terbilang sederhana. Cukup tulis naskah yang disenangi, cari aktor atau aktris yang siap syuting dengan situasi apa adanya, kumpulkan dana secukupnya, dan produksi film secepatnya. Lalu hasil akhir yang didapatkan tentu terkesan lebih eksperimental dari film-film lain di zamannya atau pendahulunya.

Pengaruh French New Wave bagi sineas dunia begitu besar dan kental. Bahkan bagi sineas independen sekalipun ‘mengiblat’ gaya satu ini. Sutradara besar masa kini seperti Martin Scorsese, Alejandro González Iñárritu, Lars Von Trier, Woody Allen, Tony Scott, bahkan Quentin Tarantino pun kerap kali menggunakan gaya sinematik French New Wave. Gebrakan ini tidak hanya memengaruhi estetika film, aturan dalam berkarya, namun dengan adanya French New Wave, setiap sineas memiliki kebebasan dalam menunjukkan originalitas dan kecintaannya dalam berkarya.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.