Informasi

Kampung Adat Baduy Akan Ditutup Untuk Para Wisatawan, Benarkah?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa waktu lalu perwakilan dari suku Baduy di Banten menyampaikan permohonan untuk menghapuskan wilayah kampung adat Baduy sebagai salah satu destinasi budaya. Bahkan mereka meminta agar lokasi mereka dihapuskan dari peta Google. Kenapa?

Kampung adat Baduy teguh memgang aturan yang telah dilakukan selama puluhan tahun. Namun sayangnya kehadiran para wisatawan seolah mengikis kebiasaan tersebut secara perlahan-lahan. Jika hal ini dibiarkan, keunikan budaya dari suku Baduy tentunya bisa menghilang di masa depan.

Surat permohonan tersebut ternyata bukan hanya dikirimkan kepada Presiden Jokowi saja, tapi juga dialamatkan kepada Bupati Lebak, Gubernur Banten, dan juga beberapa lembaga kementerian terkait.

Surat yang dikirimkan pada 6 Juli lalu tersebut disahkan oleh tiga pemangku adat Kampung Adat Baduy. Mereka adalah Jaro Saidi yang menjadi  Tangunggan Jaro 12, Jaro Aja yang menjabat Jaro Dangka Cipati, dan Jaro Madali yang diserahi tanggung jawab sebagai Pusat Jaro 7.

Alasan dibalik permohonan suku Baduy

suku baduy dalam
Warga Baduy-kemdikbud.go.id

Berdasarkan informasi yang disampaikan Heru Nugroho sebagai perwakilan dari Kampung Adat Baduy, ada beberapa masalah yang dihadapi suku Baduy.

Risih jadi tontonan

Banyak masyarakat suku Baduy yang merasa risih menjadi bahan tontonan para wisatawan. Memang banyak sekali wisatawan yang tertarik dengan cara hidup suku yang masih menganut gaya hidup tradisional ini.

BACA JUGA:

Sampah yang menumpuk

Bertambahnya jumlah wisatawan yang datang ke Kampung Adat Baduy tentunya menarik banyak pihak yang ingin menjajakan makanan dan minuman di wilayah kampung tradisional tersebut. Hal ini tentunya menambah jumlah sampah yang berserakan.

Padahal suku Baduy sangat menjunjung tinggi kebersihan alamnya. Bahkan setiap desa biasa melakukan ritual bersih desa untuk membersihkan lingkungan desa dari sampah dan juga benda-benda asing.

Beredarnya foto-foto Kampung Baduy

Wisatawan yang ingin memasuki wilayah Kampung Baduy, khususnya Baduy Dalam harus mengikuti aturan yang berlaku di sana. Salah satu aturannya adalah tidak boleh ada alat elektronik seperti kamera atau ponsel.

Namun kini banyak sekali foto-foto tentang kehidupan Suku Baduy yang beredar di internet. Padahal suku Baduy meyakini bahwa wilayah mereka adalah tempat yang sakral. Jadi para pengunjung tidak diizinkan untuk mengambil foto atau video saat berkunjung ke sana.

Permohonan tersebut ternyata bukan kesepakatan bersama

Walau surat permohonan tersebut sudah dikirimkan kepada pihak terkait, ternyata usulan tersebut belum dibicarakan dengan seluruh pemangku adat Baduy. Salah satunya adalah Jaro Saija yang memegang jabatan sebagai Kepala desa Baduy dalam bidang pemerintahan.

Jaro Saija mengungkapkan bahwa ia membantah adanya usulan menutup Kampung Adat Baduy untuk para wisatawan. Jaro Saija mengungkapkan bahwa usulan seperti itu harus dibicarakan bersama pimpinan adat tertinggi, yaitu puun, dan pemangku adat lainnya.

Namun terlepas dari apakah usulan tersebut akan diterima atau tidak, budaya tradisional suku Baduy adalah salah satu ragam budaya Indonesia yang harus dilindungi. Jadi jika kamu tertarik untuk berkunjung ke Kampung Adat Baduy, hormati tradisi mereka seperti menjaga lingkungan. Budaya tersebut nantinya akan menjadi warisan kita untuk generasi mendatang.

Mario
Author

Makhluk penasaran yang suka belajar tentang content marketing, tapi lebih hobi baca novel, manga, main game, gebukin samsak.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.