Asal-usul Seni Seni dan Budaya

Memahami Adat Budaya Tradisional dalam Kain Tenun Suku Baduy

Pinterest LinkedIn Tumblr

Kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Indonesia selalu menarik untuk ditelusuri. Beragam desa adat tradisional masih terjaga di sejumlah daerah. Salah satu yang populer adalah Pemukiman Baduy yang terletak di Desa Kanekes, Banten. Masyarakat Suku Baduy masih berpegang teguh pada adat tradisi dari leluhurnya yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Dengan mengangkat nilai tradisional, Suku Baduy memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan secara mandiri. Untuk melengkapi kebutuhan sandangnya, masyarakat Kanekes membuat kain tenun secara tradisional.

Pembuatan kain tenun dilakukan oleh perempuan, karena menurut kepercayaan, kegiatan menenun akan meningkatkan harkat seorang perempuan. Proses pembuatannya pun tidak terlepas dari ajaran-ajaran spiritual dan falsafah hidup yang terus melekat. Proses pengajaran pembuatan tenun sudah dilakukan sejak perempuan masih berusia 3 tahun. Kegiatan menenun dilakukan di waktu-waktu senggang, karena pekerjaan utama perempuan masyarakat Kanekes adalah mengurus anak dan rumah, memasak, serta mencari kayu bakar.

Kain Tenun
Image credit: Adi Sunaryo (flickr.com)

Kain tenun Suku Baduy dibuat dengan menggunakan alat yang disebut dengan paraka atau raraga. Menurut legenda, paraka dibuat dari tulang rusuk Dewi Sri Pohaci yang memberikan kehidupan dan kesejahteraan bagi masyarakat Kanekes. Alat ini serupa dengan alat tenun tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Perbedaan Motif Tenun Baduy Dalam dan Luar

Motif kain tenun Suku Baduy dibentuk oleh garis-garis vertikal dan horizontal dengan didominasi warna biru, hitam, dan putih. Motif-motif ini terinspirasi dari alam dan nilai-nilai spiritual. Untuk masyarakat Baduy Dalam yang masih sangat terjaga dari pengaruh dunia luar, banyak menggunakan warna hitam dan putih polos untuk kainnya. Hal ini berbeda dengan Baduy Luar yang memiliki berbagai macam motif kain. Kain polos tersebut pun memiliki arti tersendiri, yakni simbol dari sesuatu yang suci dari hal-hal yang mengganggu keteguhan nilai spiritual.

Kain Tenun
Image credit: Ita Perwira (flickr.com)

Tidak ada waktu khusus untuk memakai kain tenun, karena ini bagian dari kebutuhan sandang keseharian masyarakat Kanekes. Ada pun selendang sebagai hiasan untuk acara-acara tertentu seperti upacara adat. Kain dibuat untuk menutupi tubuh dengan bagian-bagian antara lain sabuk, kemben, ikat kepala, dan penutup tubuh. Bagi seorang ibu, kain tenun pun digunakan untuk alat menggendong bayi.

Kain tenun Suku Baduy ini dapat dibeli oleh masyarakat luar. Harganya tidak semahal kain di daerah lain, di sini harga yang dipatok mulai dari Rp 800.000 hingga Rp 1.000.000. Kita pun bisa membeli kain tenun yang sudah dijahit menjadi baju dengan harga yang terjangkau.

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.