Seni dan Budaya

Mengenal Tradisi Naik Dango di Masyarakat Suku Dayak, Kalimantan

Pinterest LinkedIn Tumblr

Kekayaan budaya di negeri ini selalu menarik untuk ditelusuri. Salah satunya adalah tradisi yang berkembang di masyarakat Suku Dayak, Kalimantan. Di pulau ini, suku Dayak memiliki sekitar 450 subsuku yang tersebar di berbagai daerah. Suku Dayak Kanayatn merupakan satu dari ratusan subsuku yang masih menggelar ritual bernama Naik Dango.

Tradisi Naik Dango merupakan upacara adat pada masa panen padi. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur hasil panen yang melimpah ruah. Naik Dango pun menjadi ritual untuk mendoakan proses penanaman padi di masa yang akan datang.

Momen untuk Merekatkan Tali Persaudaraan

Naik dango
Image credit: instagram.com/davidmetcalfphotography

Biasanya upacara ini dilakukan setahun sekali pada pertengahan tahun, sekitar bulan April atau Mei. Berbagai daerah di Kalimantan Barat rutin menyelenggarakan tradisi ini.

Dalam gelaran Naik Dango biasanya ditampilkan beragam pertunjukan kesenian serta pameran kerajinan tangan. Momen ini merupakan pesta rakyat yang selalu diselenggarakan dengan meriah. Maka tak heran jika tradisi ini menjadi wadah untuk mempersatukan masyarakat Suku Dayak untuk saling bersosialisasi dan bahu-membahu menggelar upacara adat.

Ritual Utama dalam Naik Dango

Naik dango
Image credit: instagram.com/davidmetcalfphotography

Masyarakat Dayak meyakini bahwa kesejahteraan dan keberhasilan panen padi ini merupakan kebesaran dari Sang Pencipta (Jubata). Padi menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Dayak, maka serangkaian ritual pun dilakukan untuk menemani proses penanaman hingga waktu panen.

Untuk menunjukan kebesaran Jubata, masyarakat Dayak perlu memiliki sarana yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Sarana tersebut adalah Rumah Panjang. Di rumah adat Suku Dayak ini, ritual Naik Dango dilaksanakan. 

Masyarakat Dayak menyiapkan persembahan berupa Sesaji Mentah dan Sesaji Masak. Persembahan tersebut dihidangkan bersama dua buah besi mirip alat musik gong. Kedua besi tersebut dibunyikan sebagai cara untuk memanggil Jubata agar hadir dalam Naik Dango.

Dahulu upacara adat ini dilaksanakan selama sebulan penuh, tetapi kini hanya dilakukan selama tiga hari. Ada tiga prosesi utama yang dilakukan, yang pertama adalah memanggil semangat padi (jiwa) agar datang ke Rumah Panjang. Kedua adalah mengumpulkan semangat padi di lumbung padi (baluh). Kemudian memanjatkan doa agar padi diberkahi di pandarengan, yakni tempat penyimpanan padi yang berukuran lebih besar daripada lumbung.

Baca juga Kemeriahan Upacara Seren Taun Di Kasepuhan Ciptagelar, Jawa Barat

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.