Informasi

Mengapa Protokol Kesehatan pada Bisnis Pariwisata Berbeda-Beda?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sudah bukan lagi rahasia apabila selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tidak sedikit sektor bisnis di Indonesia lumpuh. Salah satunya yang ikut lumpuh dan sulit untuk berdiri lagi adalah sektor pariwisata. Pasalnya, selama PSBB karena pandemi virus corona ini, berbagai macam bisnis sektor pariwisata ditutup sementara hingga waktu yang tidak ditentukan.

Walau begitu, kini berbagai tempat wisata – khususnya DKI Jakarta sudah siap menerima kembali para pengunjung atau wisatawan. Adapun tempat wisata tersebut diantaranya yaitu Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Taman Impian Jaya Ancol serta Taman Margasatwa Ragunan.

Walau Perlahan Dibuka Untuk Umum, Tempat Wisata Tetap Wajib Memberlakukan Protokol Kesehatan

Mengapa Protokol Kesehatan pada Bisnis Pariwisata Berbeda-Beda?
koran-jakarta.com

Di saat kembali menerima pengunjung, bukan berarti tanpa ada kebijakan mengenai kesehatan. Berbagai tempat wisata diimbau agar wajib menerapkan dan mematuhi beberapa protokol kesehatan atau tata cara pencegahan dari penyebaran virus corona (covid-19). Hal mengenai kebijakan kesehatan bagi sektor bisnis pariwisata ini telah disampaikan langsung oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Walau Sama-Sama Bisnis Sektor Pariwisata, Protokol Kesehatannya Akan Berbeda

Mengapa Protokol Kesehatan pada Bisnis Pariwisata Berbeda-Beda?
kompasiana.com

Beberapa hari yang lalu, dalam siaran langsung online yang bertemakan Sosialisasi Kenormalan Baru Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yaitu Cucu Ahmad Kurnia menyampaikan bahwa semua protokol covid-19 mempunyai pendekatan yang berbeda, karena itulah tantangannya juga menjadi berbeda-beda pula.

Penjelasan dari sosialisasi tersebut pun mengenalkan penyusunan protokol kesehatan yang disesuaikan di setiap industri pariwisata. Penyusunan protokol tersebut memang disusun bersama-sama dengan para pelaku, asosiasi, stakeholders atau pemangku kepentingan terkait pada bidang masing-masing, contohnya seperti di restoran, hotel dan taman rekreasi.

Selama Transisi Dari PSBB ke New Normal, Penerimaan Pengunjung Dibatasi

Pada masa transisi dari PSBB menuju New Normal ini, para pelaku bisnis hanya diperbolehkan menerima pengunjung 50 persen dari kapasitas normal. Selain itu, pihak Kemenparekraf dengan para pelaku industri pariwisata, rutin untuk mempersiapkan hal yang berkaitan dengan protokol kesehatan.

Kini tempat industri pariwisata diperbolehkan untuk kembali menerima pengunjung atau wisatawan ketika penyusunan protokol tersebut telah rampung dibuat. Pelaku bisnis sektor pariwisata pun tinggal berkomitmen dan benar-benar disiplin untuk melaksanakan protokol kesehatan. Hal tersebut berlaku bagi pengunjung, manajemen, dan karyawan.

Akan Ada Sanksi Apabila Tidak Dijalankan

Penjelasan berikutnya mengenai pemasangan pakta integritas. Ia menerangkan bahwa di setiap pintu masuk, misalnya seperti di restoran, mal dan juga hotel, diwajibkan untuk memasang pakta integritas. Hal tersebut bertujuan sebagai bentuk dari komitmen mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Jika protokol tersebut tidak dilakukan, maka akan ada sanksi yang telah tercatat dalam Peraturan Gubernur (pergub) 51 tahun 2020 mengenai denda tersebut.

Tentunya informasi di atas cukup penting untuk kamu ketahui apabila memiliki niat untuk melakukan kunjungan wisata ke beberapa destinasi yang letaknya berada tepat di kawasan DKI Jakarta. Kamu wajib untuk mematuhi beberapa protokol kesehatan yang telah disusun oleh pemerintah setempat. Akan tetapi, yang lebih penting dari itu semua adalah kesadaran akan kondisi kesehatan kamu.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.