Kesehatan

Sedentary Lifestyle: Gaya Hidup yang Beresiko Akan Penyakit Kronis

Pinterest LinkedIn Tumblr

Hingga saat ini sejumlah negara di dunia masih menjalani physical distancing akibat pandemi virus corona, tidak terkecuali di Indonesia. Di negara kita sendiri physical distancing disebut juga sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Hampir memasuki bulan ke tiga PSBB berjalan masyarakat di Indonesia pada akhirnya menjalani gaya hidup menetap (sedentary lifestyle) selama pandemi berjalan.

Walaupun untuk menghindari covid-19 ini diharuskan untuk karantina atau tetap berada di rumah, namun sedentary lifestyle ini pun dapat membawa kamu ke beberapa penyakit kronis. Jika, gaya hidup satu ini tidak diimbangi dengan aktivitas fisik di rumah maupun lingkungan. Sebenarnya, apa yang membuat sedentary life style ini menjadi suatu gaya hidup yang sebaiknya dihindari?

Terlalu Banyak Diam Di Rumah Tanpa Atau Kurang Gerak

Sedentary Lifestyle: Gaya Hidup yang Beresiko Akan Penyakit Kronis
doc. Drew Coffman

Percaya atau tidak, melansir Kompas.com, selama PSBB penggunaan internet terhitung sebanyak 93,5% dan dipakai untuk keperluan kerja kantoran maupun pendidikan. Pasalnya hampir semua kalangan mulai dari pekerja kantoran hingga siswa sekolah dan mahasiswa melakukan kegiatannya di rumah. Maka tidak heran juga jika pada akhirnya akan sering terlihat aktivitas masyarakat hanya duduk, rebahan, entah itu sambiil main game, menonton, memainkan gadget, atau bekerja di depan komputer.

Melihat hasil survey Mckinsey pun terdapat data yang menunjukkan bahwa selama pandemi, sebagian besar masyarakat Indonesia meluangkan waktunya untuk berdiam diri. Sebut saja menonton televisi, membaca berita online, menggunakan media sosial. Ada pula angka yang menunjukkan 35% lainnya untuk online streaming.

Untuk ranah pendidikan dan profesional, penggunaan video conferencing pun bertambah 25% dan 38%. Model pembelajaran jarak jauh seperti Moodle dan Google classroom pun meningkat hingga 39%.

Sementara itu, di ranah hiburan mulai dari online game, tiktok, dan menonton acara e-sport pun meningkat sebesar 32%, 15%, dan 28%. Belum lagi untuk jasa pengantaran makanan dan kebutuhan sehari-hari ikutan mengingkat secara signifikan dengan persentase 36% dan 41%. Dengan begitu, adanya pandemi ini membuat sebagian besar orang menjadi malas gerak.

Sedentary Lifestyle dan Penyakit Kronis Mengintai

Sedentary Lifestyle: Gaya Hidup yang Beresiko Akan Penyakit Kronis
doc. Olga Kononenk

Gaya hidup yang dikatakan sedentary ketika seseorang dapat menghabiskan waktu yang cukup lama untuk banyak diam dalam kurun waktu lama. Sebut saja menonton televisi dan duduk terlalu lama.

Pada penelitian University of Missouri di tahun 2015, duduk selama 6 jam atau lebih dapat meningkatkan resiko rusaknya fungsi sirkulasi aliran darah dan meningkatkan nilai tes gula darah 2 jam setelah makan (Glukosa post prandial), asam lemak darah, peradangan, dan stres oksidatif. Hal ini bisa dipicu karena sedentary lifestyle.

Selain itu, gaya hidup ini pun sebelumnya telah diteliti Nevile Owen dari Queensland University pada tahun 2010. Riset ini menunjukkan bahwa adanya hubungan antara sedentary lifestyle dan penyakit metabolik seperti hipertensi, diabetes tipe dua, obesitas, dan kanker kolon serta kanker payudara.

Meningkatnya peningkatan glukosa post-prandial dan lemak darah dapat terjadi karena kurangnya jumlah intensitas kontraksi otot. Dengan begitu, gula dan lemak dalam tubuh akan sulit terkikis dan berpindah ke otot. Karena biasanya gula dan lemak digunakan sebagai bahan bakar energi tubuh agar selalu aktif. Belum lagi, resiko kematian akibat virus corona pun karena disertakan oleh penyakit diabetes.

Selain Diabetes, penyakit kardiovaskuler pun mengintai bagi yang masih membudayakan gaya hidup ini. Sebut saja hipertensi dan penyakit jantung yang masih sering menyerang masyarakat Indonesia. Kedua penyakit tersebut akan memperburuk kondisi pasien covid-19, belum lagi bagi yang mengalami obesitas. Terdapat laporan kasus bahwa meningkatnya prevalansi pasien yang terinveksi SARS-Cov-2 dalam kondisi kritis, mengalami obesitas pula.

Mulai Gerak Walau Sedikit di Rumah

Sedentary Lifestyle Gaya Hidup yang Beresiko Akan Penyakit Kronis saat pandemi virus corona
doc. Jonathan Borba

Walau diam di rumah atau kamar kos karena pandemi virus corona, bukan berarti tidak bisa membisakan gaya hidup sehat dengan bergerak aktif kok. Sudah banyak tips olah raga di rumah yang sederhana tanpa perlu alat. Lebih efektif dan begitu sederhana untuk dilakukan adalah membiasakan diri untuk berjalan kaki jika kamu hendak pergi keluar rumah untuk membeli kebututhan pokok. Bisa juga mengoptimalkan bersih-bersih rumah kamu dengan melakukan segalanya sendiri.

Namun khusus untuk lansia, sebaiknya hindari aktivitas berat dan lakukan jalan kaki selama dua menit untuk meregangkan tubuh yang kaku akibat kebanyakan duduk. Dengan begitu tubuh tetap bisa aktif dan bugar walaupun dalam kondisi physical distancing. Jangan sampai gaya hidup sedentary menjadi kebiasaan untuk kamu.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.