Seni dan Budaya

Sigale-gale, Patung Misterius dari Samosir

Pinterest LinkedIn Tumblr

Keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia tak akan ada hentinya untuk dibahas. Salah satu yang menarik adalah tradisi yang dimiliki masyarakat Batak Toba, yakni Sigale-gale. Tradisi yang satu ini merupakan sebuah patung kayu berwujud anak laki-laki, lengkap dengan pakaian tradisional serta kain ulos pada bahunya.

Sigale-gale pada awalnya ditampilkan pada upacara penguburan dalam tradisi masyarakat Batak Toba di Pulau Samosir, Sumatera Utara. Patung ini berdiri di atas sebuah podium khusus dan digerakan dengan menggunakan tali-tali seperti sebuah boneka marionette. Sementara pemain yang menggerakan boneka ini bersembunyi di balik penutup yang berada di bagian belakang patung.

Upacara Kematian Tanpa Keturunan

sigale-gale
Image credit: @amrisimatupang

Penampilan sigale-gale biasanya dilakukan di luar rumah. Patung tersebut digerakan seperti orang yang sedang menari dan biasanya diiringi dengan musik gondang sabangunan. Para anggota keluarga yang berkabung turut menari untuk mengharapkan kesejahteraan, pengampunan dosa, dan rezeki.

Tradisi ini dikhususkan bagi orang-orang yang meninggal tetapi tidak memiliki keturunan, atau anak-anaknya telah tiada. Pada awalnya pertunjukan ini ditampilkan oleh keluarga kerajaan atau tokoh masyarakat yang penting.

Namun seiring berjalannya waktu, pertunjukan sigale-gale dilakukan untuk keperluan pariwisata. Jika ada masyarakat dari luar Samosir yang ingin menonton pertunjukan ini, masyarakat pun akan mementaskannya. Bedanya, tidak menggunakan instrumen musik gondang sabangunan secara langsung, tetapi menggunakan musik rekaman.

Legenda Raja Rahat dan Manggale

sigale-gale
Image credit: @hutabonapasogit

Ada berbagai versi legenda yang mengisahkan awal mula tradisi sigale-gale berkembang dalam masyarakat Batak Toba. Salah satunya adalah kisah Raja Rahat dari Pulau samosir. Raja ini memiliki seorang anak bernama Manggale. Anaknya tersebut dikirim ke medan perang untuk melawan serangan dari negeri tetangga.

Sang raja mendapatkan kabar bahwa Manggale gugur di medan perang. Alangkah sedihnya ia, dan rakyatnya pun turut merasa kehilangan. Suatu hari, sang raja sakit keras, seorang datu memberi nasehat untuk membuat sebuah patung yang mirip dengan anaknya, Manggale, yang telah meninggal.

Dibuatlah patung tersebut, dan sang datu menggelar sebuah ritual untuk memanggil roh Manggale agar masuk ke dalam patung tersebut. Kerinduan Raja Rahat terhadap anaknya pun terobati dengan patung yang sangat mirip dengan Manggale tersebut. Ia memberi nama patung ini dengan sebutan “sigale-gale” yang artinya lemah lembut.

Baca juga Ngayah, Tradisi Gotong Royong Di Bali

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.