Inspirasi Mode

Slow Fashion, Gerakan “Puasa” Belanja Pakaian Untuk Sementara

Pinterest LinkedIn Tumblr

Ada yang selama karantina malah semakin boros dengan membeli barang yang belum tentu kamu gunakan? Tentu kamu pasti pernah mengalami hal ini. Entah itu kamu malah konsumtif membeli makanan yang baru-baru, membeli kosmetik yang belum tentu kamu gunakan untuk keluar rumah, dan yang pasti, konsumtif untuk membeli pakaian diskon. Bagaimana tidak, walau kini banyak mall yang terpaksa tutup, malah sekarang membeli pakaian trendi diskon semakin mudah karena adanya sistem belanja online. Tahukah kamu kebiasaan ini buruk bagi lingkungan? Maka kamu perlu ketahui gerakan slow fashion.

Slow Fashion, Berawal Dari Peduli Lingkungan Terhadap Limbah Tekstil dan Sampah Fashion

Slow Fashion, Gerakan "Puasa" Belanja Pakaian Untuk Sementara
pixabay.com

Bagi kamu yang kerap membeli beberapa pakaian dalam hitungan bulan – apalagi selama karantina, sebaiknya mulai kurangi. Apalagi setelah Komunitas Zero Waste Indonesia (ZWID) menyuarakan gerakan Slow Fashion – yakni mengurangi membeli pakaian selama pandemi. Komunitas ini hadir untuk mengajak orang-orang agar mampu berkomitmen untuk tidak membeli pakaian baru selama tiga bulan ini. Tujuannya untuk mengurangi sampah fashion dan limbah dari tekstil.

Mulai Dari Lemari

Slow Fashion, Gerakan "Puasa" Belanja Pakaian Untuk Sementara
doc. Zui Hoang

Kampanye yang digaungkan ZWID ini adalah “Mulai Dari Lemari”. Sementara untuk masa keberlangsungan dari kampanye “Mulai Dari Lemari” ini di awali di tanggal 15 Juli hingga 15 Oktober 2020. Pada gerakan tersebut, kamu diminta untuk mencari alternatif pakaian baru, misalnya seperti dengan cara meminjam, menyewa, menukar, membeli pakaian bekas atau hanya dengan menjahit sendiri.

Kegiatan tersebut memang dinilai cukup efektif dilakukan untuk mengurangi kebiasaan orang  berbelanja pakaian . Meskipun begitu, bukan berarti dalam gerakan ini kamu tidak diperkenankan sama sekali membeli pakaian baru. Hal tersebut boleh saja kamu lakukan, asalkan jika membeli pakaian tersebut benar-benar dibutuhkan, bukan hanya sekedar karena ingin, terdapat diskon atau bahkan tergiur karena secara kebutulan memang sedang tren. Pasalnya suatu hal yang mesti kamu ketahui yaitu banyak orang yang hendak membeli pakaian bukan karena butuh.

Satu hal lagi yang mesti kamu sadari, di masa pandemi ini, jika hendak membeli pakaian baru, dianjurkan untuk memilih busana dari label fashion berkelanjutan atau label lokal. Hal tersebut dirasa perlu untuk dilakukan agar mendukung wirausaha yang terkena dampak dari pandemi covid-19. Poin ini senada dengan yang telah disampaikan oleh Maurilla Sophianti Imron, selaku pendiri dari Komunitas Zero Wate Indonesia, dalam siaran resmi yang dikutip oleh Antara.

Industri Fashion Telah Dikenal Sebagai Industri yang Berkembang Cepat

Maurilla menyampaikan bahwa seiring dengan perkembangan zaman, industri fashion bergulir dengan cepat. Berbagai label gencar mengeluarkan koleksi barunya demi mengikuti tren. Fast fashion menjadi sesuatu yang banyak diminati berimbas kepada perilaku komsumerisme, di mana orang-orang membeli pakaian baru demi mengikuti tren semata dengan jumlah lebih dari yang mereka butuhkan. Padahal, industri tekstil merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Jika hal tersebut terus menerus dilakukan tentunya tidak baik juga untuk diri sendiri beserta lingkungan.

Terdapat alasan di belakang penerapan slow fashion ini. Dikutip dari Global Fashioned Agenda, limbah tekstil akan diperkirakan bertambah sebanyak 60 persen antara tahun 2015 hingga 2030. Emisi karbon global dapat berkurang hingga 30 persen jika melalui gerakan ini setidaknya ada lima ribu orang yang berpartisipasi untuk memperpanjang umur pakaian hingga 9 bulan.

Amanda Zahra Marsono selaku Head of Public Relations and Markteting juga Project Manager dari #TukarBaju menegaskan bahwa Mulai Dari Lemari (MDL) bukanlah anti pakaian, akan tetapi menjadi sebuah pengingat diri. Menurutnya, kampanye ini fokus kepada pembentukan kesadaran mengenai implementasi Fashion Lambar dalam konsep Fashion Berkelanjutan.

Jadi, bagaimana? Mulai terpikir untuk puasa beli pakaian selama tiga bulan ke depan?

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.