Seni dan Budaya

Sumur Gumuling, Masjid Bawah Tanah Peninggalan Keraton Yogyakarta

Pinterest LinkedIn Tumblr

Jejak peninggalan masa lalu di Yogyakarta selalu menarik untuk ditelusuri. Salah satunya adalah kawasan Taman Sari, sebuah istana air peninggalan dari masa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan II. Area dengan luas lebih dari 10 hektar ini memiliki berbagai bangunan bersejarah yang menawan. Salah satu yang menarik adalah Sumur Gumuling.

Mengapa Sumur Gumuling menjadi sangat menarik untuk ditelusuri? Karena bangunan ini dahulu difungsikan sebagai masjid, namun letaknya berada di bawah tanah. Posisinya berada di area bekas segaran (laut buatan), tak jauh dari Pulo Kenanga.

Dari luar, kita dapat melihat bagian atas Menara Sumur Gumuling yang berbentuk silinder. Ketebalan dindingnya mencapai 1,5 meter. Hal tersebut dikarenakan di sekitar luar dinding digenangi air segaran. Ketebalan dinding akan menahan tekanan dari debit air. Maka bisa dibayangkan dahulu menara ini tampak terapung di tengah air.

Menyusuri Lorong-Lorong Bawah Tanah

Sumur Gumuling
Bagian lorong yang berbentuk cincin | Image credit: Anthony Cramp (flickr.com)

Untuk menuju lokasi Sumur Gumuling, tentu kita harus melewati pintu masuk area Taman Sari. Karena bangunan ini berada di bawah tanah, maka kita pun harus menelusuri lorong tersembunyi yang membawa kita masuk ke dalamnya.

Lorong-lorong bawah tanah ini dinamakan Tajuh. Pencahayaan lorong ini memanfaatkan cahaya matahari yang masuk dari ceruk-ceruk di bagian samping dan atas. Ketika berjalan di dalam lorong ini, kita seperti berada dalam labirin. Namun tak perlu khawatir tersesat karena akan ada pemandu yang mengarahkan jalan masuk.

Begitu sampai di bagian tengah Sumur Gumuling, kita akan menemukan lengkungan-lengkungan pintu yang berpusat pada sebuah struktur tangga. Di tempat ini kita akan menyadari bahwa lorong ruangan memiliki bentuk seperti cincin.

Sumur Gumuling
Bagian tengah bangunan | Image credit: Berry (flickr.com)

Bagian tengah dengan struktur tangga tersebut, dahulu difungsikan sebagai mimbar. Suara imam yang memimpin jalannya ibadah akan menggema ke sekeliling ruangan. Bagian atap ruang tengah dibuat terbuka agar cahaya matahari masuk menerangi ruangan.

Area Sumur Gumuling terbagi menjadi dua lantai. Untuk jemaah laki-laki menggunakan ruangan di bagian lantai atas. Sementara untuk perempuan menggunakan bagian lantai bawah. Di bagian tengah bangunan, terdapat sumur sebagai sumber air untuk wudhu.

Fungsi Lainnya Sebagai Benteng Pertahanan

Sumur Gumuling
Struktur tangga Sumur Gumuling | Image credit: Andrea Kirkby (flickr.com)

Posisi Sumur Gumuling yang berada tersembunyi di bawah tanah dimanfaatkan sebagai benteng sekaligus bunker untuk pertahanan. Terdapat lorong yang terhubung dengan Keraton. Lorong tersebut menjadi akses bagi keluarga Keraton jika perlu melarikan diri.

Karena dahulu di sekitar bangunan ini terdapat laut buatan, maka kanal-kanal air dibangun di sekitarnya. Kanal air ini pun dapat menggenangi bagian bawah tanah untuk menyulitkan musuh jika menyerang bunker.

Itulah keunikan bangunan masjid bawah tanah di Taman Sari Yogyakarta yang masih bertahan hingga kini. Meski tidak digunakan lagi sebagaimana fungsinya, namun kita masih tetap menikmati pesona Sumur Gumuling ini.

Baca juga Menelusuri 7 Bagian di Dalam Taman Sari Yogyakarta

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.