Seni dan Budaya Sulawesi

Tau-Tau, Patung dalam Upacara Kematian di Tana Toraja

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sulawesi Selatan terkenal dengan masyarakat Suku Toraja yang masih hidup dengan adat tradisional. Masyarakatnya tinggal di daerah pegunungan bagian utara provinsi ini. Salah satu kabupaten dengan masyarakat penganut kepercayaan lokal adalah Tana Toraja.

Wilayah Tana Toraja sering kali dijadikan pilihan untuk wisata budaya. Banyak hal mengenai kearifan lokal yang bisa dipelajari di sini. Terutama dalam upacara kematian, Rambu Solo. Dalam ritus tersebut, identik dengan pembuatan patung Tau-tau.

Toraja
Image credit: Arian Zwegers (flickr.com)

Dalam Bahasa Toraja, Tau-tau berarti ‘orang’. Memang wujud patung ini berupa figur manusia. Menariknya, sosok yang dibuatkan patung ini adalah orang-orang yang telah meninggal dunia. Patung ini biasanya dibuat oleh masyarakat yang menyelenggarakan upacara Rambu Solo untuk keluarganya yang telah meninggal dunia. Upacara ini biasanya digelar oleh keluarga yang mampu, karena ritualnya dapat memakan biaya hingga ratusan juta rupiah.

Penghubung Manusia dengan Orang yang Telah Meninggal

Tau-tau
Image credit: Collin Key (flickr.com)

Dalam kepercayaan masyarakat Toraja, Tau-tau berfungsi sebagai penghubung antara keluarga dan masyarakat yang masih hidup dengan orang yang sudah meninggal. Dengan demikian, patung ini menjadi salah satu bentuk pengabdian kepada para tetua dan nenek moyang.

Patung ini biasanya dibuat dari kayu nangka dengan bagian mata yang terbuat dari tulang dan tanduk kerbau. Pada awalnya, bentuk Tau-tau dipahat dengan bentuk sederhana. Tetapi seiring berkembangnya waktu, patung ini dibuat dengan tingkat kemiripan tinggi dengan orang yang telah meninggal.

Proses Pembuatan Tau-tau

Tau-tau
Upacara Rambu Solo | Image credit: Arian Zwegers (flickr.com)

Ada serangkaian proses dalam pembuatan Tau-tau. Yang patung pertama adalah proses pemilihan kayu pohon nangka di dalam hutan. Untuk menebang pohon tersebut, masyarakat harus mengorbankan seekor ayam atau anjing terlebih dahulu.

Kemudian pembuatan Tau-tau dengan ritual yang menyedian sesaji berupa potongan ayam. Dilanjutkan dengan upacara pembuatan bagian genital dengan sesaji seekor babi yang dikurbankan. Selanjutnya, patung dipakaikan baju sesuai dengan pakaian yang digunakan oleh orang yang sudah meninggal. Dalam tahap ini pun ada hewan yang dikurbankan, yakni seekor kerbau yang dipersembahkan dalam upacara.

Setelah itu, diselenggarakan upacara peresmian Tau-tau dengan pemotongan seekor babi. Dan terakhir adalah proses menidurkan Tau-tau bersebelahan dengan jenazah orang yang meninggal. Proses ini diyakini merupakan proses pemindahan roh dari jenazah ke dalam patung.

Ada proses penutup yang tidak boleh dilewatkan. Tau-tau kemudian dibawa dan diletakan di goa Londa. Di goa ini terdapat patung-patung lain yang sebelumnya telah disimpan. Peletakan patung pun sesuai dengan status social orang yang telah meninggalnya.

Baca juga 5 Fakta Tongkonan, Rumah Adat Toraja yang Sarat Makna

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.