Asal-usul

Yuk Kenali Sistem Penamaan Orang Bali!

Pinterest LinkedIn Tumblr

Apa kamu pernah bertanya-tanya kenapa nama orang Bali mirip-mirip? Seperti Putu, Made, Gusti, Ida Ayu, Wayan, dan lainnya. Jika mendengar nama-nama itu pasti langsung bisa menebak asal daerah mereka pasti dari Bali. Tak jarang dalam satu tempat ada beberapa orang dengan nama yang sama. Bahkan tak sedikit orang-orang yang tinggal di luar Pulau Dewata tapi memiliki darah Bali, tetap menggunakan nama-nama tersebut.

Ternyata penamaan dalam masyarakat Bali ada aturannya tersendiri. Tradisi penamaan ini ditentukan oleh beberapa alasan, seperti jenis kelamin, urutan kelahiran anak dalam satu keluarga, serta sistem kasta yang masih dipegang oleh masyarakat Hindu.

Berdasarkan Jenis Kelamin

Bali
Image credit: Studio30 Photography (flickr.com)

Dalam penama orang Bali, biasanya terdapat awalan “Ni” atau “I”. Awalan tersebut mewakili jenis kelamin dari pemilik nama. “Ni” digunakan untuk nama perempuan seperti Ni Made…, Ni Nyoman…, dan lainnya. Sedangkan “I” digunakan untuk awalan nama anak laki-laki. “I” merupakan singkatan dari “Ida”, misalnya I Putu…, I Made…, dan lainnya.

Untuk mengidentifikasikan jenis kelamin, tidak hanya dengan nama “Ni” dan “I”. Untuk perempuan berkasta Sudra (rakyat biasa), ada juga penggunaan nama “Luh” untuk mengidentifikasi jenis kelamin perempuan, misalnya Luh Made…, Luh Gede…, dan lainnya. Selain “Luh”, nama “Ayu” juga menjadi ciri khas nama perempuan.

Penamaan dari Urutan Kelahiran

Orang Bali
Image credit: Marta Olszewska (flickr.com)

Dalam satu keluarga orang Bali, penamaan anak pun berdasarkan dari urutan kelahirannya. Anak pertama laki-laki menggunakan nama “Gede”, dan perempuan dengan nama “Luh”. Ada pun penamaan “Putu” dan “Wayan” yang dapat diterapkan baik untuk laki-laki maupun perempuan yang menjadi anak sulung. Sedangkan untuk anak kedua, pilihan namanya adalah “Made”, “Kadek”, dan “Nengah”. Nama-nama tersebut dapat digunakan baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Untuk laki-laki atau perempuan anak ketiga, dapat diberi nama “Komang” dan “Nyoman”. Dan untuk nama “Komang” pun sering diberi nickname “Koming” atau “Ming”. Sedangkan untuk anak keempat, diberi nama “Ketut” yang berasal dari kata tuwut yang artinya mengekor.

Bagaimana jika dalam satu keluarga memiliki anak lebih dari empat? Nah, untuk anak kelima akan diberi nama seperti anak pertama. Jika ada anak keenam, maka diberi nama seperti pilihan nama anak kedua. Begitu pun seterusnya, urutannya kembali dari awal hingga kelipatan empat.

Tradisi dari Sistem Kasta

Nama-nama yang telah disebutkan di atas umumnya digunakan orang Bali untuk keturunan kasta Sudra. Meski di masa kini penamaan berdasarkan sistem kasta tidak sekaku yang dijalankan di masa lalu, tetapi dalam sebagian masyarakat Bali masih mempertahankan tradisi ini. Biasanya keluarga yang memiliki gelar kebangsawanan mewariskan nama kasta kepada keturunannya. Misalnya masyarakat dengan kasta Brahmana, biasanya memiliki gelar “Ida Bagus” atau “Ida Ayu”.

Sedangkan untuk gelar dalam kasta Kesatria antara lain “Gusti”, “Anak Agung”, “Cokorda”, dan “Desak”. Untuk anak perempuan dalam kasta ini pun ada gelar “Dewa Ayu”. Golongan kasta Kesatria biasanya keturunan para pejabat penting seperti bupati, menteri, hingga abdi keraton. Dan untuk gelar keturunan kasta Waisya antara lain “Ngakan”, “Kompyang”, “Sang” atau “Si”.

Baca juga Candi Gunung Kawi, Candi di Bali yang Terpahat di Dinding Tebing

Audya
Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.